BANDA ACEH — Warga di sejumlah wilayah di Aceh mengeluhkan kelangkaan semen yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kelangkaan tersebut memicu lonjakan harga yang drastis di tingkat pedagang eceran.
Kondisi dilaporkan terjadi di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara. Selain harga yang meroket, ketersediaan pasokan di toko-toko bangunan pun makin menipis.
“Semen Andalas yang sebelumnya berkisar Rp60.000 per sak, kini dijual mulai dari Rp85.000 hingga lebih dari Rp110.000,” ungkap Bang Din, pemilik toko bangunan di Krueng Geukueh, Aceh Utara.
Kesulitan ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang sedang membangun. Nasruddin, salah seorang warga setempat, mengaku harus berkeliling ke beberapa lokasi hanya demi mendapatkan beberapa sak semen.
“Kami cari ke sejumlah toko tidak ada barangnya. Kalaupun ada, harganya mahal sekali dan jumlahnya sangat terbatas,” ujar Nasruddin.
Langkanya pasokan dan tingginya harga bahan bangunan tersebut mulai memukul sektor konstruksi. Berbagai pekerjaan fisik, seperti rehabilitasi rumah korban bencana, revitalisasi sekolah, pembangunan ruko, hingga proyek infrastruktur pemerintah terpaksa mengalami perlambatan.
Kondisi ini memantik keprihatinan Geuchik Tambon Tunong, Murdani. Ia menyayangkan terjadinya kelangkaan bahan bangunan dasar di daerah yang memiliki fasilitas produksi sendiri.
“Sangat ironis. Aceh memiliki pabrik semen, tetapi masyarakatnya justru menghadapi kelangkaan. Pemerintah Aceh harus segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga dan memastikan distribusi berjalan lancar,” tegas Murdani.
Ia mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk turun tangan membenahi rantai pasokan. “Jika tidak segera diatasi, proses pembangunan dan rehabilitasi rumah warga terancam berhenti total,” lanjutnya.
Menanggapi keluhan tersebut, General Manager PT Solusi Bangun Andalas (SBA), R. Adi Santosa kepada awak media pada Jumat (31/7/2026) menegaskan, bahwa operasional pabrik sejauh ini berjalan normal. Pihaknya terus mengoptimalkan jalur distribusi untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Terkait harga yang membumbung tinggi, Adi memastikan perusahaan tidak menaikkan harga jual dari pabrik.
“Harga di tingkat pengecer dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam rantai distribusi yang berada di luar kewenangan penetapan harga perusahaan,” jelas Adi.












