SIGLI — Bendungan Blang Kumot Lhok Adan di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, jebol setelah diterjang arus deras Krueng Tiro. Kerusakan tersebut memutus pasokan air ke areal persawahan dan mengancam sekitar 800 hektare lahan pertanian memasuki musim tanam.
Bendungan yang menjadi salah satu sumber utama pengairan sawah di Kemukiman Lam Ujong dan sejumlah gampong di Kecamatan Sakti itu dilaporkan mulai rusak pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Kondisinya semakin parah setelah hujan deras mengguyur wilayah Pidie dalam sepekan terakhir.
Derasnya aliran Krueng Tiro menghantam konstruksi bendungan hingga sebagian strukturnya patah dan hancur. Kerusakan itu membuat aliran air menuju jaringan irigasi persawahan terputus.
Pemerintah Kecamatan Sakti kemudian melaporkan kerusakan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Pidie untuk segera ditangani.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Pidie Apriadi Ahmad, S.Sos., bersama Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpang) Pidie H. Hasballah, S.P., M.M., meninjau langsung kondisi bendungan.
Keduanya didampingi pejabat Dinas PUPR Pidie, Camat Sakti, keujruen blang, Mukim Cot Murong, serta sejumlah keuchik dari wilayah yang terdampak.
Dari hasil peninjauan, kerusakan bendungan dinilai cukup parah. Material dan sampah yang terbawa arus dari kawasan hulu juga sempat menumpuk di Neulop Reubee. Material tersebut telah dibersihkan menggunakan alat berat Dinas PUPR Pidie.
Apriadi mengatakan pemerintah daerah akan melakukan penanganan darurat untuk memastikan pasokan air ke persawahan dapat kembali dialirkan sebelum petani memasuki masa tanam.
“Mulai besok, perbaikan bendungan segera dikerjakan secara darurat. Ini harus dilakukan karena musim tanam dan olah tanah sawah dimulai awal Oktober,” kata Apriadi.
Menurut dia, perbaikan permanen bendungan merupakan kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I. Namun, Pemkab Pidie tidak akan menunggu proses tersebut untuk melakukan penanganan awal.
“Untuk penanganan darurat, kita akan mengerahkan alat berat agar aliran air bisa kembali dimanfaatkan petani,” ujarnya.
800 Hektare Sawah Terancam
Kepala Distanpang Pidie H. Hasballah mengatakan dampak kerusakan bendungan berpotensi langsung dirasakan petani karena pasokan air dari Krueng Tiro terhenti.
“Ketika bendungan ini tidak berfungsi, suplai air ke areal persawahan terhenti total. Petani tidak bisa lagi mengalirkan air dari Krueng Tiro,” kata Hasballah.
Ia memperkirakan sekitar 800 hektare sawah yang tersebar di puluhan gampong terdampak akibat terputusnya aliran air.
“Areal sekitar 800 hektare tidak menerima aliran air dan dikhawatirkan mengalami kekeringan jika bendungan tidak segera ditangani,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena kerusakan terjadi menjelang musim tanam. Jika pasokan air tidak segera dipulihkan, petani berisiko mengalami keterlambatan tanam hingga gagal tanam.
BWS Sumatera I Siapkan Penanganan
Apriadi mengatakan BWS Sumatera I telah merespons kerusakan bendungan tersebut dan membuka kemungkinan penanganan melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh.
“BWS Sumatera I akan membantu agar penanganannya dapat dilakukan melalui Satgas PRR Aceh,” kata Apriadi.
BWS Sumatera I juga telah berkoordinasi dengan PPK bidang perairan Dinas PUPR Pidie untuk menyusun laporan kerusakan bendungan. Sementara Distanpang diminta menyiapkan data mengenai luas areal pertanian yang terdampak.
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan penanganan tidak hanya bersifat darurat, tetapi dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi bendungan secara permanen.
Pemkab Pidie kini memprioritaskan penanganan sementara agar distribusi air ke persawahan kembali berjalan sebelum petani memasuki musim tanam awal Oktober.












