Durasi, Lhokseumawe – Pemko Lhokseumawe, membutuhkan dana senilai Rp1,234 triliyun untuk pemulihan dampak bencana alam banjir. Banjir yang menerjang pada tanggal 26 November 2025 lalu itu meluluh lantakkan, diantaranya meliputi perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lintas sektor.
Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, memimpin langsung rapat penyampaian hasil akhir Pengkajian Kebutuhan Pascabencana (JITUPASNA). sekaligus dirangkai dengan Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Senin (19/1).
Rapat tersebut bertujuan untuk menyampaikan secara komprehensif hasil akhir pengkajian dampak bencana banjir, menyepakati besaran kerugian dan kebutuhan pascabencana. Termasuk Dokumen R3P sebagai acuan resmi dalam perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan rehabilitasi serta rekonstruksi wilayah terdampak.
Kegiatan ini dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, para kepala Organisasi Perangkat Daerah, pimpinan perbankan, pimpinan perguruan tinggi, tim pendamping dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta serta perwakilan instansi dan lembaga terkait.
Pelaksanaan JITUPASNA dilakukan secara bertahap dan sesuai ketentuan. Tim JITUPASNA Kota Lhokseumawe mulai bekerja sejak 10 Desember 2025 berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Lhokseumawe.
Penyusunan dokumen dilakukan sejak akhir Desember 2025 setelah data lapangan terkumpul, kemudian dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh melalui pra-desk tahap I pada 7 Januari 2026 dan dilanjutkan pra-desk tahap II pada 14 Januari 2026 sebagai bagian dari verifikasi dan penyelarasan data lintas sektor.
Berdasarkan hasil pengkajian, total kerugian akibat bencana banjir yang melanda Kota Lhokseumawe pada lima sektor, meliputi sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi, dan lintas sektor, tercatat sebesar Rp1,18 triliun. Sementara itu, total kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang diperlukan untuk pemulihan wilayah dan masyarakat Kota Lhokseumawe mencapai Rp1,23 triliun.
Wali Kota Sayuti Abubakar menjelaskan, data ini adalah hasil akhir JITUPASNA disusun secara serius, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
” Tidak ada permainan dalam pendataan ini. Seluruhnya merupakan data riil hasil pendataan langsung di lapangan yang telah melalui tahapan verifikasi dan pembahasan bersama. Karena itu, dokumen ini menjadi dasar penting dalam perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, ujarnya.
Ia memaparkan, hasil akhir JITUPASNA dan Dokumen R3P yang sudah disepakati ini akan segera dibawa ke tingkat provinsi. Selanjutnya, diteruskan ke pemerintah pusat sebagai dasar dukungan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Kota Lhokseumawe.
” Hasil yang kita sepakati hari ini tidak berhenti di daerah. Dokumen ini akan kita bawa ke provinsi dan selanjutnya diteruskan ke pusat agar menjadi dasar dukungan dan kebijakan penanganan pascabencana. Karena itu, seluruh data harus solid, satu suara, dan dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.
Pihaknya atas nama Pemko mengapresiasi dan terima kasih kepada BNPB, Pemerintah Provinsi Aceh, Kejaksaan Negeri Lhokseumawe, Polres Lhokseumawe, Kodim 0103/Aceh Utara, serta seluruh pihak terkait yang telah memberikan dukungan dan pendampingan kepada dalam penanganan bencana banjir tersebut.
Kegiatan itu turut dirangkaikan dengan penandatanganan Berita Acara Kesepakatan Hasil JITUPASNA Kota Lhokseumawe sebagai bentuk komitmen bersama terhadap validitas data dan keseriusan pemerintah daerah dalam penanganan pasca bencana.
Acara rapat ini dimulai sekira pukul 14.00-15.30 Wib.
