Lantik Pengurus Baru, Mahyuzar Titip 3 PR Harus Dituntaskan MAA Aceh Utara

  • Bagikan
Pj Bupati, Mahyuzar, melantik Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara periode 2024-2029 yang berlangsung di Meuligoe Pendopo Bupati setempat, Sabtu (30/11). Foto : (Durasi/Erwin)

Durasi, Lhokseumawe – Pj Bupati Aceh Utara, Mahyuzar, menitip tiga Pekerjaan Rumah (PR) yang harus segera dituntaskan oleh pengurus baru Majelis Adat Aceh (MAA) yang baru dilantik periode tahun 2024-2029. Ketiga pesan itu dinilainya saling mengikat antara satu dengan yang lainnya tentang adat-istiadat, mulai persoalan motif khas Aceh Utara, resam gampong hingga persoalan belum pernah jelas pastinya kapan hari lahir daerah itu.

 

Ia mengemukakan, berbicara adat Aceh biasanya dirinya hanya terbayang dalam benaknya adalah hanya tentang Pinto Aceh samata. Namun, ternyata selama bertugas sebagai Pejabat didaerah ini banyak ditemukan beraneka ragam motif maupun corak khas Aceh Utara. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam memperkenalkan beragam motif yang belum diketahui oleh segenap lapisan masyarakat.

 

” Yang Saya tahu itu ada 7 motif khas Aceh Utara, yang mana pada tahun 2024 Kita sudah mewajibkannya kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) memakainya secara rutin pada hari Kamis. Sedangkan, untuk 2025 tentu harus dibuat kompetisi atau sayembara oleh MAA, ” ucap Mahyuzar ketika memberikan sambutan disela-sela acara pelantikan Pengurus MAA Kabupaten Aceh Utara yang berlangsung di Meuligoe Pendopo Bupati setempat, Sabtu (30/11).

Selanjutnya, permasalahan resam atau hukum adat di Gampong-gampong yang dinilainya masih jalan ditempat. Padahal, seharusnya banyak sekali yang dapat dilakukan disana, seperti pemberlakuan jam malam bagi Anak-anak dan remaja, hewan ternak yang berkeliaran dimana-mana dan beberapa lainnya.

 

Pj Bupati, Mahyuzar, berpose bersama Pengurus MAA Aceh Utara. Foto : (Durasi : Erwin).

Kemudian, sebut Mahyuzar, terkait belum jelasnya tanggal dan tahun hari lahirnya Kabupaten Aceh Utara. Buktinya, dari beberapa kali kunjungan dan penelitian yang dilakukan di area Makam Ratu Nahrisyah sangat bertolak belakang dengan apa yang tertulis didalam buku sejarah.

 

Untuk itu dirinya berpesan, untuk secepatnya melakukan penelitian, guna mengungkap kapan persisnya tanggal, bulan ataupun tahun hari lahirnya Aceh Utara. Beberapa cara dapat dilakukan dengan menjalin kerjasama dan berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Malikussaleh yang sedang Giat-giatnya melakukan penelitian disana.

 

” Tulisan khat Arab di Makam Ratu Nahrisyah dengan buku sejarah yang beredar luas di masyarakat berbeda jauh. Jadi, yang harus dilakukan sesegera mungkin dengan berkolaborasi bekerjasama dengan UIN mencari jejak dan fakta sejarah yang sesungguhnya sebagai upaya mencari jati diri atau sebuah identitas daerah, ” terangnya.

Menyematkan rencong senjata tradisional sebagai simbol sejarah Kesultanan Aceh. Foto : (Durasi/Erwin)

Ketua Majelis Adat Aceh Utara, T. Idris Thaib mengaku, dirinya sangat terhormat dan bersyukur atas kepercayaan yang telah diberikan untuk memimpin dan mewakili MAA ini sebagai ketua yang baru. Saat ini bukan hanya sebuah momen pelantikan, tetapi juga awal dari suatu perjalanan yang penuh tanggung jawab dan harapan.

 

” Saya ingin mengucapkan yang Sebesar-besarnya kepada Pengurus MAA sebelumnya yang sudah gigih dan penuh dedikasi menjalankan lembaga adat ini. Saya berjanji untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan dan berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga dan meningkatkan prestasi, ” tuturnya.

 

Ia menyebutkan, dalam melaksanakan roda kepemimpinan di lembaga adat ini dibutuhkan sinergi dan kolaborasi antara seluruh anggota sangatlah penting. Oleh karena itu diperlukan membangun fondasi yang kokoh, berkolaborasi dengan menjujung tinggi semangat kebersamaan dalam mencapai tujuan.

 

” Visi dan misi ini menjadi kompas perjalanan Kita, Saya yakin dengan kerjasama Kita dapat mencapai prestasi yang gemilang dalam memberikan kontribusi secara signifikan bagi masyarakat. Saya terbuka menerima kritik dan saran dari anggota pengurus dengan menjalin komunikasi, keterbukaan dan partisipasi aktif, ” paparnya.

Duduk bersama Pengurus MAA Aceh Utara. Foto : (Durasi/Erwin)

Idris meminta, semua pihak untuk bersatu, bekerja keras dan menjaga semangat kebersamaan dalam setiap kebijakan yang dijalankan. Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan yang sudah diberikan.

 

” Ungkapan bijak mengatakan sejarah adalah cerminan masa lalu. Setiap orang pasti membuat sejarah, tapi tidak semua orang mau belajar dari sejarahnya. Makanya, dituntut komitmen dan kesungguhan Kita sebagai pewarisnya untuk belajar dari kearifan lokal sebuah sejarah itu sendiri, ” pungkasnya.

 

Berikut adalah susunan Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Utara, yaitu Ketua dipimpin oleh T. Idris Thaib, Wakil Ketua I, M Idris T, SE, dan Wakil Ketua II, Tgk Ismail. Kemudian, Ketua Bidang Adat dan Istiadat, Ir Muhammad Hatta, S.ST, MT, Anggota, Tgk Mawardi, Abdul Hanan Arba, dan Tgk Banta Chairullah.

Selanjutnya, Ketua Bidang Hukum Adat, Prof. DR. Jamalauddin, SH, M.Hum, Anggota, Amarullah, S.Kom.I,  Safri, SE dan Asnawi H Ali. Disusul, Ketua Bidang Penilitian Pengembangan dan Adat, DR. Saifuddin, Lc, MA,  Anggota, Ismail, H. M Yunus, SE dan Amiruddin Yusuf .

Ketua Bidang Pusaka dan Khazanah Adat, Tgk Jailani, SPd.I, Anggota, Mukhtariza, SE dan Zulfiandi. Terakhir adalah Ketua Bidang Putroe Phang, Riyanti, S.Pd, Anggota, Diniah, S.Pd dan Julaiha.

  • Bagikan
Exit mobile version