hit counter

Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai Dipadati Ribuan Warga, Tgk Habibi Ingatkan Wasiat Sultan Malikussaleh

  • Bagikan
Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Utara memadati pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026).

ACEH UTARA — Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Utara memadati pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026).

Kehadiran massa tersebut bertujuan untuk mengikuti tausiah yang disampaikan oleh Tgk Habibi An-Nawawi dalam rangkaian peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai.

Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Utara memadati pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026).

Sejak sore hari, masyarakat telah berdatangan ke lokasi kegiatan. Area utama acara hingga tenda-tenda yang disiapkan oleh panitia dipenuhi oleh jamaah yang ingin mendengarkan ceramah agama berisikan sejarah, peradaban Islam, dan kepemimpinan warisan Kesultanan Samudera Pasai.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil (Ayahwa), Sekretaris Daerah Aceh Utara Dayan Albar, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para ulama, tokoh adat, serta pejabat daerah setempat.

Ribuan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Aceh Utara memadati pelataran Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, Rabu malam (9/9/2026).

Pesan Persatuan dan Kepemimpinan Adil

Dalam tausiahnya, Tgk. Habibi menekankan pentingnya menjaga persatuan dan keadilan yang diwariskan oleh Sultan Malikussaleh selaku pendiri Kerajaan Samudera Pasai. Ia menggarisbawahi bahwa salah satu wasiat terbesar yang wajib dijaga para pemimpin adalah menghindari perpecahan akibat perebutan kekuasaan.

“Raja yang adil adalah amanah dari Raja Malikussaleh. Para pemimpin, pejabat, dan tokoh adat tidak boleh membiarkan terjadinya pertengkaran dan perpecahan. Jangan sampai para pemimpin saling berebut kekuasaan sehingga merugikan rakyat,” tegas Tgk. Habibi di hadapan para jamaah.

Ia menambahkan, seorang pemimpin harus berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan golongan maupun kelompok tertentu. Sebaliknya, masyarakat juga diimbau untuk tetap loyal kepada pemimpin selama berada di jalan yang benar.

Tgk. Habibi juga mengapresiasi kemegahan perhelatan Milad ke-800 Samudera Pasai yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Menurutnya, acara ini merupakan salah satu perhelatan terbesar yang pernah diselenggarakan untuk mengangkat kembali sejarah kejayaan Islam di Nusantara.

“Ini pertama kalinya dalam sejarah Aceh Utara menggelar acara semegah ini, dan ini berkat Bupati Ayah Wa,” ujarnya.

Ia menilai, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari pembangunan fisik semata, melainkan dari kemampuan mengajak masyarakat—khususnya generasi muda—untuk mencintai sejarah, menjaga syariat Islam, serta membangun peradaban berlandaskan nilai-nilai agama.

Sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang berperan penting dalam penyebaran dakwah, lanjutnya, momentum 800 tahun Samudera Pasai harus dimanfaatkan untuk membangkitkan kembali semangat keilmuan, akhlak, dan persatuan umat.

“Jika dahulu Samudera Pasai mampu melahirkan tokoh-tokoh besar dan menjadi pusat ilmu serta peradaban, maka tugas kita hari ini adalah melanjutkan warisan tersebut. Jangan hanya bangga dengan sejarah, tetapi mari kita hidupkan kembali nilai-nilai pendahulu,” tuturnya.

Kisah Ibnu Battutah dan Peradaban Pasai

Dalam ceramah yang berlangsung lebih dari satu jam tersebut, Ustaz Habibi turut mengisahkan perjalanan penjelajah Muslim ternama, Ibnu Battutah, saat mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14. Kisah tersebut menggambarkan tingginya adab masyarakat Pasai dalam memuliakan tamu, serta kedekatan para sultan dengan ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan.

Ia menceritakan bagaimana Ibnu Battutah disambut hangat sebelum bertemu Sultan Al-Malik Al-Zahir. Sang sultan bahkan diceritakan berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan Salat Jumat serta aktif menghadiri majelis ilmu bersama para ulama.

Menurut Habibi, catatan sejarah itu membuktikan bahwa Samudera Pasai bukan sekadar kerajaan yang kuat secara politik dan ekonomi, melainkan pusat peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu dan tata krama.

“Jangan kita katakan bahwa kita bangsa yang tidak beradab, tidak punya sejarah, dan tidak punya peradaban. Kita mengerti tata krama, sopan santun, serta cara menyambut dan memuliakan tamu,” tegasnya.

Selain Ibnu Battutah, ia juga menyinggung sosok Fatahillah yang memiliki keterkaitan erat dengan Samudera Pasai dan berperan penting dalam perjuangan Islam di Jawa. Hal ini menunjukkan luasnya jangkauan pengaruh Samudera Pasai di Nusantara.

Berlangsung Khusyuk dan Tertib

Rangkaian tausiah diakhiri dengan doa bersama untuk memperkuat persatuan, melestarikan warisan sejarah, dan menegakkan syariat Islam. Jamaah mengikuti jalannya acara dengan khusyuk hingga usai.

Berdasarkan pantauan di lokasi, tingginya antusiasme warga sempat memicu kepadatan arus lalu lintas di jalan nasional sekitar kawasan Landing. Meski demikian, seluruh rangkaian acara berjalan tertib dan lancar di bawah pengamanan aparat gabungan.

Peringatan Milad ke-800 Samudera Pasai tahun ini mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat”, sebagai bentuk refleksi bersama dalam menjaga warisan sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas masyarakat Aceh.

  • Bagikan