Durasi, Aceh Utara – Pemulihan kembali infrastruktur dayah yang rusak akibat banjir di Kabupaten Aceh Utara beberapa waktu lalu, membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Pusat. Uluran tangan disana mendesak, sebab kondisi sarana/prasarana dan fasilitas pendukung di lembaga pendidikan agama itu masih jalan ditempat alias mandek.
Bahkan, ada sekitar 35 unit dari total 210 unit dayah di wilayah harus berakhir ditutup akibat porak-poranda. Pendidikan agama bagi santriwan/santriwati sebagian mengalami lumpuh total.
” Bukan hanya bangunan juga banyak diantara saantri, guru mengaji dan pengelola dayah ikut menjadi korban hingga sekarang bertahan di hunian sementara. Dan, semuanya ini sudah Kami laporkan ke Pusat dan Pemprov, ” kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Tgk. Muhammad Yunus menjawab durasi, Jum’at (11/9).
Ia mengaku, pihaknya sangat membutuhkan uluran tangan dari Pemerintah, guna menanggulangi nasib pilu pendidikan tersebut. Terlebih, dayah merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional tertua di Aceh yang berfungsi sebagai pusat ilmu agama, pembentukan moral generasi muda, dan pilar penjaga identitas, serta adat istiadat masyarakat Aceh.
” Ada satu namanya Dayah Al-Anhar Gampong Sawang bertempat di Kecamatan Sawang itu yang harus direlokasi sudah hilang tidak ada lagi dihantam banjir. Disana pengajiannya tetap normal berkat swadaya masyarakat, tapi untuk santri mondoknya sudah terhenti, ” tuturnya.
Namun demikian, sebut Tgk Yunus, program pembinaan bagi pengembangan dayah terus dilakukan kendati dalam kondisi seadanya. Hal ini sangat penting dalam memulihkan kembali kegiatan proses belajar dan mengajar disana.
” Selama ini bantuan inisiatif sendiri dari dinas bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sampai perbaikan balai pengajian. Mudah-mudahan Pusat bisa membantu segera penanganannya,” harapnya
