Kasatgas Tito, Pastikan Penanganan Darurat Berjalan Cepat. Masa tanggap darurat di Aceh Utara berpeluang diperpanjang selama satu minggu ke depan.
ACEH UTARA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera meninjau langsung lokasi pengungsian warga terdampak banjir bandang di Langkahan, Aceh Utara, Kamis (22/1/2026).
Dalam upaya memastikan percepatan pemulihan pascabencana, Kasatgas Tito melakukan kunjungan kerja ke tiga lokasi pengungsian banjir di Kecamatan Langkahan. Ketiga titik yang dikunjungi meliputi Gampong Rumoh Rayeuk, Buket Linteung, dan Lubok Pusaka.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat serta kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi. Kunjungan ini difokuskan untuk meninjau langsung progres pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak.
Selain menyapa para pengungsi, Kasatgas Tito sekaligus menyerahkan bantuan di Posko Pengungsian Gampong Rumoh Rayeuk, Buket Linteung, dan Lubok Pusaka, Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.
Kasatgas Tito menyampaikan, bahwa berdasarkan hasil diskusi dengan pemerintah daerah setempat, masa tanggap darurat di Aceh Utara berpeluang diperpanjang selama satu minggu ke depan. Perpanjangan tersebut dimaksudkan untuk memberi ruang percepatan proses pengadaan yang tengah dilakukan.
“Ya tadi kami sudah diskusi, kemungkinan besar untuk yang di Aceh Utara, kalau dia mau memperpanjang satu minggu lagi, enggak apa-apa,” kata Tito.
Tito menjelaskan, selama masa tanggap darurat, Pemda dapat menggunakan mekanisme pengadaan nonkonvensional, termasuk penunjukan langsung kepada penyedia jasa atau kontraktor, guna mempercepat penanganan kebutuhan mendesak. Mekanisme tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk perbaikan fasilitas umum seperti masjid, jalan, dan infrastruktur dasar lainnya.
“Kalau ada yang misalnya mau dia memperbaiki jalan, dia bisa tunjuk langsung dimasa tanggap darurat. Tunjuk langsung, gunakan APBD-nya dia, langsung beresin, cepat, clear. Kecepatan nomor satu di sini,” tegas Kasatgas Tito.
Namun, Tito mengingatkan bahwa setelah masa tanggap darurat berakhir, proses pengadaan akan kembali menggunakan mekanisme reguler melalui lelang terbuka yang dapat memakan waktu hingga tiga bulan. Untuk itu, dia menyatakan akan mengusulkan diterbitkannya kebijakan khusus yang memungkinkan mekanisme pengadaan luar biasa pada masa transisi pascabencana.
“Saya usulkan semacam ada inpreslah gitu ya, dalam masa bencana, ditempat bencana ini. Proses apa namanya itu, pengadaannya dilakukan dengan mekanisme yang juga extraordinary (luar biasa). Jangan yang reguler. Kalau reguler, saya takut nanti lambat,” ujar Tito.
Tito menegaskan, bahwa kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan di lapangan dan mencegah tersendatnya bantuan bagi warga. Sebab, kecepatan merupakan kunci utama dalam penanganan bencana.
Tito menilai kondisi Aceh Utara mulai menunjukkan pemulihan di sejumlah sektor, meski masih diperlukan perhatian khusus di wilayah tertentu. “Saya melihat untuk Aceh Utara, sudah berapa kali datang, kita lihat lalu lintas sudah normal ya. Kemudian di kota juga, Lhoksukon juga baik, ekonomi berjalan lancar, pendidikan berjalan, meskipun ada tenda-tenda masih. Rumah sakitnya juga sudah bagus. Cuma di daerah pedalaman yang perlu kita atensi,” ungkap Kasatgas Tito.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan bahwa penanganan dampak banjir bandang di Aceh Utara melibatkan banyak kementerian dan lembaga. Pekerjaan yang membutuhkan anggaran besar ditangani oleh pemerintah pusat, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Untuk bisa mencapai lokasi tersebut, rombongan menempuh perjalanan menggunakan perahu mengingat kondisi wilayah yang masih terdampak bencana.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, rombongan Menteri Dalam Negeri Tito didampingi Wakil Gubernur Aceh Fadlullah, Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil (Ayahwa), Kepala BNPB Letjen Suharyanto beserta rombongan juga melaksanakan makan siang bersama di tenda pengungsian Desa Bandar Pusaka, Dusun Seulemak, sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana.
