Durasi, Lhokseumawe – Ratusan nara pidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Kota Lhokseumawe, menangis ketika bertemu langsung dengan Ulama Kharismatik Aceh, Abu H. Muhammad Ali yang sering dikenal Abu Di Paya Pasi. Warga binaan itu tampak tak henti-hentinya mengusap air mata yang menetes diwajahnya saat mendengar tausiyah Imam Besar Masjid Baiturrahman Banda Aceh yang hadir disana, Senin Siang (10/8).
Abu Paya Pasi memimpin ceramah perdana digedung baru Lapas Kelas II-A bertempat dikawasan Punteut, Gampong Ulee Blang Manee, Kecamatan Blang Mangat setempat. Sekaligus beliau juga melakukan peusijuek atau tepung tawar sebagai tanda keberkahan dan keselamatan berfungsinya gedung baru tersebut.
Kehadiran Abu Di Paya Pasi menjadi momentum yang begitu bermakna bagi seluruh jajaran dan warga binaan. Dengan tutur kata yang lembut, suara yang teduh, serta nasihat yang sarat akan nilai-nilai peutuah bijak beliau mengajak seluruh WBP untuk menjadikan kehidupan di dalam Lapas bukan sebagai akhir dari perjalanan, melainkan sebagai ruang untuk berhenti sejenak, menundukkan hati, bermuhasabah, dan mempersiapkan diri untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.

Dalam tausiyahnya, Abu Di Paya Pasi menyampaikan sejumlah pelajaran penting yang bersumber dari kisah para nabi dan nilai-nilai kehidupan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah ibrah dari perjalanan hidup Nabi Yusuf AS, yang mengajarkan bahwa ujian, penderitaan, fitnah, kehilangan, bahkan keterasingan bukanlah pertanda bahwa Allah SWT meninggalkan hamba-Nya. Sebaliknya, di balik setiap ujian terdapat hikmah, pembentukan kesabaran, serta jalan menuju kemuliaan yang terkadang belum mampu dilihat oleh manusia.
Kisah Nabi Yusuf AS menjadi pengingat bahwa seseorang tidak boleh berputus asa hanya karena berada dalam keadaan yang sulit. Sebab, sebagaimana perjalanan Nabi Yusuf AS yang bermula dari sumur, kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang yang terasing hingga akhirnya memperoleh kemuliaan, Allah SWT senantiasa memiliki jalan yang tidak pernah disangka oleh manusia.
Abu juga memberikan penekanan mendalam mengenai shalat sebagai kunci kehidupan. Shalat bukan semata-mata kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi merupakan tempat seorang hamba kembali ketika dunia terasa berat, ketika hati mulai gelisah, dan ketika langkah mulai kehilangan arah.
“Jangan pernah tinggalkan shalat ! Karena shalat itulah yang menjadi pegangan ketika kehidupan Kita diuji seperti yang dialami selama ini,” pesan Abu Paya Pasi.

Kalapas Kelas II-A Lhokseumawe, Wahyu Prasetyo, Bc.IP, S. Sos, MH mengungkapkan, kehadiran Abu Paya Pasi merupakan yang perdana digelar setelah 10 hari menempati gedung baru. Kegiatan tausyiah atau siraman rohani dari para ulama ini sudah menjadi agenda rutin di lapas.
” Alhamdulillah, warga binaan semua begitu santun dan antusias sekali melaksanakan pengajian disini. Dan, ternyata hadirnya Abu Paya Pasi kemari sudah sangat dirindukan oleh seluruhnya (napi-red), ” jelas Kalapas Wahyu Prasetyo.
Amatan dilokasi terlihat usai acara para napi berbondong-bondong ramai menyalami dan mencium tangan ulama kharismatik Aceh itu. Semuanya larut dalam suasana bahagia dengan penuh khidmat dan sukacita.












