LHOKSEUMAWE – Menteri Dalam Negeri yang juga Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, berbuka puasa hingga salat tarawih bersama masyarakat Kota Lhokseumawe di Masjid Agung Islamic Center, Jumat (20/2/2026).
Kasatgas Tito berbuka puasa hingga salat tarawih bersama masyarakat Kota Lhokseumawe di Masjid Agung Islamic Center, Jumat (20/2/2026).
Buka puasa bersama di masjid agung yang menjadi ikon Kota Lhokseumawe itu juga dihadiri Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar, dan pejabat Forkopimda. Usai berbuka puasa bersama, Mendagri Tito salat Magrib berjemaah.
Tito juga salat Isya berjemaah di masjid tersebut. Sebelum dimulai salat tarawih berjemaah pada malam ketiga Ramadan 1447 H, Imam Besar Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe Teungku Asnawi Abdullah akrab disapa Abu Asnawi mengisi ceramah singkat.
Abu Asnawi memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan “curhatan” kepada Mendagri Tito tentang kondisi Masjid Agung Islamic Center.
Masjid tersebut dibangun sejak tahun 2001 pada masa Bupati Aceh Utara Tarmizi A. Karim. Lhokseumawe yang sebelumnya Ibu Kota Kabupaten Aceh Utara kemudian resmi menjadi Kota otonom pada 21 Juni 2001 berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001, hasil pemekaran Kabupaten Aceh Utara.
“Sampai sekarang pembangunan masjid kebanggaan masyarakat Kota Lhokseumawe ini belum selesai sepenuhnya,” kata Abu Asnawi.
Menurut Abu Asnawi, masih ada bagian atap masjid ini yang bocor saat hujan. Selain itu, masih ada bagian-bagian bangunan termasuk di lantai 2 masjid ini yang belum rampung.
Karena itu, Abu Asnawi mengajak Mendagri Tito ikut berpartisipasi dalam pembangunan masjid besar ini. Termasuk mengajak pihak-pihak lainnya di pemerintah pusat untuk turut membantu.
“Bagaimana caranya, kita percayakan kepada Bapak Mendagri. Harapan masyarakat Kota Lhokseumawe ke depan masjid ini bisa selesai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ucap Abu Asnawi.
Abu Asnawi pun meminta kesediaan Mendagri Tito menyampaikan sepatah kata di hadapan jemaah.
“Saya berbahagia bisa berkumpul bersama, berbuka puasa, salat Magrib, salat Isya, dan sebentar lagi salat tarawih,” kata Mendagri Tito.
“Saya belum tahu berbuat seperti apa. Tapi, saya akan berbuat [untuk pembangunan masjid ini],” ucap Tito merespons harapan masyarakat Kota Lhokseumawe yang disampaikan Abu Asnawi.
Tito berharap nantinya Wali Kota Lhokseumawe dapat menyampaikan lebih konkret mengenai kebutuhkan untuk pembangunan masjid tersebut. “Sehingga saya bisa mengajak sahabat dan kawan-kawan yang peduli untuk pembangunan masjid,” ujarnya.
Dia kemudian menjelaskan soal fokus pemulihan pascabencana di 8 kabupaten di Aceh. Mulai dari Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya di wilayah pesisir, hingga kawasan pegunungan yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
“Itulah sebabnya kami melaksanakan Safari Ramadan untuk mengetahui kondisi update dan problema-problema yang ada. Kami dari Satgas pasti bekerja keras,” tutur Tito.
Menurut Tito, dalam Safari Ramadan ini ternyata pihaknya juga menemukan kondisi seperti pembangunan masjid ini yang membutuhkan perhatian.
“Saya akan berusaha. Mohon doanya agar Allah SWT memberikan jalan bagi saya. Semoga semua usaha kita dimudahkan oleh Allah SWT,” ucap Tito.
Tito akan melanjutkan perjalanan ke daerah terdampak bencana lainnya pada Sabtu besok, yakni Bireuen dan Pidie Jaya, lalu ke Banda Aceh. “Kemudian balik ke pusat untuk membahas persoalan-persoalan yang ada”.
Sebelumnya, Mendagri Tito didampingi Wagub Aceh Fadhlullah, dan Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi berbuka puasa bersama warga terdampak bencana di Aceh Tamiang, Kamis, 19 Februari 2026.
Buka puasa digelar di Hunian Danantara 1 Karang Baru bersama warga yang telah menempati hunian sementara tersebut.
“Kita mensyukuri kebersamaan kita dan kita masih bisa untuk menikmati buka puasa bersama. Pada bencana yang lalu, salah satu [daerah] yang terdampak berat adalah di Aceh Tamiang ini. Dan kita masih terus bekerja keras untuk memulihkan, bahkan insya Allah akan lebih baik,” kata Tito.
Adapun indikator pemulihan kawasan bagi Tito adalah kondisi jalan, listrik, internet, serta pasar dan toko yang mulai beraktivitas. “Semua sudah pada kelihatan, tetapi belum selesai. Masih banyak yang ingin kami kerjakan.”[]













