LHOKSEUMAWE — Potensi pengembangan industri minyak dan gas bumi (migas) di kawasan Lhokseumawe dan Aceh Utara kembali menjadi perhatian mendalam berbagai pihak. Namun, terbukanya peluang investasi dan keberadaan perusahaan multinasional seperti Mubadala Energy membawa tantangan besar: sejauh mana kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal untuk dapat terserap di sektor bernilai tinggi tersebut?
Pentingnya kesiapan kompetensi generasi muda Aceh diulas oleh Mahasiswa Magister Hukum Universitas Malikussaleh, Muhammad Fadli. Menurutnya, keberadaan proyek industri di daerah tidak secara otomatis memberikan jaminan pekerjaan bagi warga lokal tanpa adanya standar kualifikasi yang memadai.
Industri migas modern menerapkan standar kerja, kedisiplinan, serta Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang ketat. Selain keahlian teknis, kemampuan bahasa Inggris profesional, penguasaan teknologi, dan pemahaman regulasi menjadi syarat mutlak bagi calon tenaga kerja.
“Semangat sebagai putra daerah saja tidak cukup. Semangat tersebut harus dibarengi dengan kemampuan yang dapat dibuktikan melalui pendidikan, sertifikasi, dan pengalaman profesional,” ujar Fadli melalui keterangan pers, Selasa (13/10/2026).
Ia menekankan bahwa pencari kerja lokal harus mampu berdiri sejajar dan bersaing secara adil (meritokrasi) dengan pelamar dari daerah lain agar tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri saat rekrutmen dibuka.
Peran Perguruan Tinggi Lokal
Sektor migas membutuhkan ekosistem profesi yang luas, mulai dari bidang teknik, hukum industri, analisis ekonomi, logistik, hingga kesehatan kerja dan teknologi informasi. Oleh karena itu, perguruan tinggi di kawasan Lhokseumawe dan Aceh Utara—seperti Universitas Malikussaleh, Politeknik Negeri Lhokseumawe, dan UIN Sultanah Nahrasiyah—dinilai memegang peran strategis dalam mencetak lulusan yang siap pakai.
Fadli mendorong kampus-kampus lokal untuk memperkuat kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri. Salah satu usulan konkret yang disuarakan adalah penerapan pembelajaran bahasa Inggris secara berkelanjutan di setiap semester, dengan fokus pada penguasaan English for Specific Purposes (ESP).
Kolaborasi Pemda dan Pelaku Industri
Pengembangan kualitas SDM tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada mahasiswa dan perguruan tinggi semata. Pemerintah Daerah (Pemda) Lhokseumawe dan Aceh Utara diimbau untuk hadir melalui program nyata, seperti, menyusun data kebutuhan tenaga kerja sektor migas dan industri pendukungnya. Mengadakan bimbingan bahasa Inggris profesional serta simulasi wawancara kerja bagi pencari kerja lokal dan keluarga kurang mampu. Memfasilitasi sertifikasi keahlian yang diakui oleh standar industri.
Di sisi lain, perusahaan migas yang beroperasi di Aceh diharapkan membuka ruang dialog dan kolaborasi secara transparan mengenai kebutuhan kualifikasi, jalur rekrutmen, serta program magang bagi mahasiswa daerah.
Upaya mendorong penyerapan tenaga kerja lokal bukanlah bentuk kompromi terhadap penurunan standar kualitas industri, melainkan langkah untuk memperluas akses dan kesempatan secara adil.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar agar tenaga kerja lokal diterima karena berasal dari Aceh, melainkan karena memang memiliki kemampuan yang dibutuhkan. Kesempatan yang besar hanya akan memberikan manfaat ketika bertemu dengan kesiapan yang memadai,” pungkas Fadli.
