ACEH UTARA – Kuman tidak punya sayap untuk terbang dan tidak punya kaki untuk berlari jauh. Tetapi, mereka pintar mencari tumpangan, dan kendaraan favoritnya adalah tangan kita. Pesan itu disampaikan kepada siswa SD Negeri 9 Dewantara dalam Health Campaign SATRIA (Siaga Antigen, Tangkas Rawat Imunitas Anak), Sabtu (26/9/2026).
Program ini digelar oleh Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (Unimal). Edukasi tentang sanitasi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) diberikan kepada seluruh siswa dari kelas 1 hingga 6. Sebanyak 30 siswa kelas 2 kemudian menjadi sasaran utama yang mendapat kegiatan lebih lengkap, mulai dari penyampaian materi hingga praktik langsung.
Kegiatan ini dibuka dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ahmad Zaki, dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ketua Pelaksana Ulfia Fitri, Ketua BEM Rafiqi Ahmad Hanafiah Nasution, serta Kepala SDN 9 Dewantara, Nurasmah.
Mengapa Harus Anak Sekolah Dasar?
Alasannya bukan sekadar karena mereka mudah diajak bermain. Usia sekolah dasar adalah masa ketika kebiasaan dan karakter mulai terbentuk, dan apa yang dibiasakan sekarang cenderung terbawa hingga dewasa.
Di sisi lain, keseharian anak-anak penuh dengan gerak belajar, bermain, dan bersentuhan langsung dengan teman. Di situlah kuman punya banyak kesempatan untuk berpindah. Karena itu, mengenalkan kebersihan tangan sejak dini menjadi langkah pencegahan yang sederhana tetapi penting. Bagi mahasiswa kedokteran, inilah wujud peran promotif dan preventif: menjaga agar orang tidak sakit sebelum harus berobat.
Materi dibawakan oleh dr. Sarah Rahmayani Siregar, M.Biomed., yang mengemasnya sebagai kisah petualangan. Dalam sesi ini, para siswa diposisikan sebagai “pahlawan cilik” dan kuman sebagai musuh yang bersembunyi.
Menurut dr. Sarah, kuman berukuran sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tangan yang tampak bersih pun belum tentu bebas dari kuman. Mikroorganisme ini dapat menempel di gagang pintu atau mainan teman, berpindah ke tangan, lalu masuk ke tubuh lewat mata, hidung, dan mulut.
Dokter memaparkan bahwa kuman yang berhasil masuk dapat menguras tenaga tubuh. Anak-anak dapat mengalami sakit perut, diare, atau demam, sehingga tidak bisa bermain maupun belajar seperti biasa. Kebiasaan sepele seperti mengucek mata dengan tangan kotor atau makan tanpa mencuci tangan menjadi pintu masuk utama, katanya melalui keterangan pers, Selasa (29/6).
Karena itu, kunci pertahanannya adalah memutus rantai perpindahan tersebut lewat Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Ada empat momen penting yang perlu diingat siswa, sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bermain, setelah batuk atau bersin.
Dr. Sarah juga menjelaskan mengapa mencuci tangan tidak boleh sekadar dibasahi air. Air saja tidak cukup untuk mematikan kuman, sedangkan sabun bekerja merusak lapisan lemak pelindungnya. Gosokan selama minimal 40 detik memastikan seluruh permukaan tangan terjangkau. Cuci tangan sekilas kurang dari 10 detik biasanya hanya membersihkan telapak tangan, sementara sela jari dan kuku yang sering menjadi tempat kuman bersembunyi justru terlewat.
Enam langkah CTPS yang diajarkan meliputi, gosok kedua telapak tangan, gosok punggung tangan, Gosok sela-sela jari, kunci jari-jemari, lalu gosok, putar ibu jari ke dalam genggaman secara bergantian, gosok ujung jari secara bergantian.
Ia menambahkan bahwa tangan bersih hanyalah satu bagian dari perlindungan tubuh. Daya tahan yang kuat juga perlu ditopang oleh makanan bergizi, tidur cukup, olahraga, dan lingkungan yang bersih sebagai bagian dari PHBS.
Materi tidak berhenti di layar presentasi. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok bersama fasilitator untuk membuat paper craft, lalu langsung mempraktikkan langkah CTPS di bawah pendampingan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan roleplay yang membuat suasana ruangan semakin hidup.
Suasana kegiatan jauh dari kesan kaku. Siswa tampak sangat aktif, berebut menjawab pertanyaan, dan beberapa respons lucu mereka sempat mengundang tawa. Sebelumnya, seluruh siswa juga telah menjalani post-test sederhana, di mana tiga siswa dengan pemahaman terbaik mendapatkan penghargaan (awarding).
Hasil kegiatan terlihat sebelum acara usai. Para siswa mampu menjelaskan kembali manfaat mencuci tangan dan menyebutkan waktu yang tepat untuk melakukannya, sementara siswa kelas 2 dapat mempraktikkan langkah CTPS dengan benar. Acara ditutup dengan pembagian hadiah, doa, dan foto bersama.
Melalui Health Campaign SATRIA, panitia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat berubah menjadi kebiasaan sehari-hari, sehingga lingkungan sekolah menjadi lebih sehat. Pesannya sederhana dan dapat dipraktikkan oleh siapa saja, menjaga kesehatan dimulai dari kebiasaan kecil, salah satunya mencuci tangan dengan benar.
Bagi orang tua dan guru, kebiasaan ini akan lebih mudah bertahan bila diingatkan dan dicontohkan langsung, baik di rumah maupun di sekolah. Diharapkan, sinergi edukasi antara orang tua dan tenaga pendidik ini mampu menciptakan generasi yang unggul dan sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Bagi pembaca, orang tua, atau guru yang ingin mempelajari kembali materi edukasi ini dan membagikannya kepada keluarga serta teman, materi lengkap dari dr. Sarah dapat diakses melalui Tautan Materi Google Drive.
Health Campaign SATRIA adalah program Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FK Universitas Malikussaleh.
