Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja, USK dan GEN-A Hadirkan Program TaKasi-SeRa di Banda Aceh

  • Bagikan

BANDA ACEH — Nyeri haid yang mengganggu aktivitas, perubahan keputihan, dan tubuh yang mudah lelah kerap dianggap sebagai keluhan biasa oleh remaja putri. Padahal, mengenali perubahan tubuh, membedakan kondisi normal dari tanda yang perlu diwaspadai, serta mengetahui waktu yang tepat untuk mencari bantuan tenaga kesehatan merupakan kunci penting dalam menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Urgensi edukasi ini diperkuat oleh data kesehatan nasional dan daerah. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Kementerian Kesehatan RI mencatat prevalensi anemia sebesar 15,5% pada kelompok usia 15–24 tahun.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh melaporkan 17,05% remaja putri yang menjalani skrining pada 2025 terindikasi mengalami anemia, dengan cakupan skrining mencapai 78,09% dan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai standar baru menyentuh angka 49,08%.

Dari aspek kesehatan menstruasi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari dua dari tiga perempuan mengalami nyeri saat haid yang membutuhkan perhatian serius jika sudah menghambat aktivitas. Di sisi lain, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa keputihan normal umumnya berwarna bening hingga putih tanpa bau menyengat, sementara perubahan warna, tekstur, atau bau yang disertai gatal dan rasa terbakar harus segera dikonsultasikan kepada tenaga medis.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, program Taman Edukasi Kesehatan Remaja (TaKasi-SeRa) kembali digelar di SMAIT Nurul Ishlah Banda Aceh, Kamis (29/10/2026).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Pengembangan Berkelanjutan (PKMBPB) Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), dengan mengangkat tiga materi utama: nyeri haid, keputihan, dan pencegahan anemia.

Ketua Tim Pengabdian, Ns. Putri Mayasari menegaskan, pentingnya menyediakan ruang belajar yang aman bagi remaja untuk memperoleh informasi kesehatan yang akurat.

“Remaja putri perlu dibekali pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi agar mampu mengenali keluhan yang dialami, melakukan perawatan diri dengan tepat, serta tidak ragu mencari bantuan tenaga kesehatan ketika diperlukan,” ujar Putri melalui keterangan pers, Jumat (30/10/2026).

Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam tiga sesi interaktif yang disampaikan oleh para ahli di bidangnya:

  1. Mengenali Nyeri Haid (Dismenore): Disampaikan oleh Syarifah Bainatun Nadia, siswi diajak mengenali batasan nyeri haid yang normal serta cara penanganan sederhana seperti kompres hangat dan istirahat cukup, sekaligus memahami kapan keluhan tersebut harus diperiksakan ke dokter.

  2. Memahami Keputihan Normal dan Tidak Normal: Dipaparkan oleh Ns. Rifa’ Nadhifatusysyarfi, peserta diedukasi mengenai kebersihan organ reproduksi, tata cara bersuci bagi muslimah, serta cara mengenali gejala keputihan yang memerlukan perhatian medis tanpa rasa malu.

  3. Pencegahan dan Deteksi Dini Anemia: Dibawakan oleh Haliana Rahmat Dewi, sesi ini fokus mengenali gejala fisik anemia seperti 5L (lemah, letih, lesu, mudah lelah, dan pusing), pentingnya gizi seimbang, serta kepatuhan mengonsumsi TTD yang diiringi edukasi mengenai penghambat penyerapan zat besi seperti teh.

Selain pemaparan materi, rangkaian acara diisi dengan diskusi interaktif, kuis, serta evaluasi melalui pre-test dan post-testyang diikuti oleh 14 peserta. Hasil evaluasi mencatat lonjakan rata-rata nilai dari 70 pada pre-test menjadi 91 pada post-test, yang merepresentasikan peningkatan pengetahuan sebesar 30%.

Salah seorang siswi peserta mengaku mendapatkan banyak wawasan baru yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Melalui kegiatan ini, saya jadi lebih memahami pentingnya mengenali kondisi tubuh dan mengetahui kapan harus mencari informasi atau bantuan yang tepat,” ungkapnya.

Melalui program TaKasi-SeRa, PKMBPB USK dan GEN-A berharap para siswi dapat menerapkan pengetahuan ini dalam keseharian, lebih terbuka berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, serta menyebarkan informasi positif kepada teman sebaya.

Program ini diharapkan terus berlanjut sebagai model integrasi layanan kesehatan reproduksi berbasis sekolah guna mendukung terwujudnya lingkungan belajar yang sehat, aman, dan sejahtera, sejalan dengan Gerakan Sekolah Sehat (GSS).

  • Bagikan
Exit mobile version