Dugaan Laboratorium Sabu di Pidie Terbongkar, 1,2 Ton Barang Bukti Disita

  • Bagikan

PIDIE — Aparat gabungan mengungkap dugaan laboratorium produksi narkotika jenis sabu di sebuah ruko di Jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Dalam rangkaian operasi tersebut, petugas menyita barang bukti dengan berat total sekitar 1,2 ton bruto, termasuk sekitar 500 kilogram sabu kristal yang diduga siap diedarkan.

Pengungkapan ini juga mengarah pada dugaan keterlibatan jaringan narkotika lintas negara. Dalam pemaparan kronologi operasi di Pidie, Jumat (23/10/2026), disebutkan adanya komunikasi yang diduga terjalin antara anggota jaringan di Aceh dan pihak yang berada di China.

Penyelidikan kasus tersebut telah dimulai sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan menelusuri pergerakan sejumlah orang yang diduga terkait dengan sindikat itu sebelum melakukan penindakan serentak di lima lokasi pada 21 Oktober 2026.

Dari penggeledahan di lokasi yang diduga menjadi tempat produksi, petugas menemukan sekitar 20 drum berisi cairan yang diduga berkaitan dengan proses pembuatan sabu, bahan mother liquor atau cairan induk dalam pengolahan narkotika, serta sekitar 500 kilogram sabu berbentuk kristal. Aparat juga menyita sejumlah peralatan produksi dan puluhan telepon seluler.

“Totalnya sekitar 1,2 ton dari seluruh rangkaian operasi,” kata Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto saat pemaparan kronologi tersebut di Pidie, Jumat (23/10/2026)

Jalur Kuala Lumpur–Aceh Ditelusuri

Berdasarkan kronologi yang dipaparkan, tim mulai memantau pergerakan sejumlah orang berinisial LJ dan XM pada 16 Oktober 2026. Seorang berinisial MN diduga berperan menyiapkan akomodasi, sedangkan seseorang berinisial B disebut telah lebih dahulu melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Banda Aceh sebelum menuju Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Pada 17 Oktober sekitar pukul 17.20 WIB, LJ, XM, dan MN tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar. Ketiganya kemudian dijemput menggunakan mobil Toyota Innova Reborn berwarna hitam. Setelah sempat makan, rombongan tiba di ruko di Jalan Dayah Tanoh sekitar pukul 22.26 WIB.

Sekitar pukul 03.00 WIB, rombongan lain yang menggunakan Toyota Fortuner juga tiba di lokasi tersebut.

Pada 18 Oktober, kendaraan Fortuner itu bergerak menuju Medan, Sumatera Utara. Dalam informasi yang dikaitkan dengan NNCC, disebutkan adanya komunikasi antara seseorang berinisial LG dan pihak yang diduga sebagai atasannya di China, yakni RX dan X. Komunikasi tersebut diduga berkaitan dengan dimulainya proses produksi narkotika.

Pergerakan jaringan kembali terpantau pada 19 Oktober. Sekitar pukul 12.51 WIB, rombongan yang menggunakan Fortuner diduga memindahkan koper dan sejumlah kotak ke sebuah mobil Honda Jazz berwarna putih yang dicurigai membawa logistik jaringan.

Pada malam harinya, sekitar pukul 22.35 WIB, muncul dugaan instruksi dari seseorang berinisial LX agar proses produksi dan pengemasan dipercepat untuk selanjutnya dikirim.

Penindakan Serentak di Lima Lokasi

Operasi memasuki tahap penindakan pada 21 Oktober 2026. Sekitar pukul 12.19 WIB, tim konsolidasi di Pidie menerima informasi bahwa LJ dan XM berada di ruko di Jalan Dayah Tanoh.

Petugas kemudian melakukan penindakan serentak di lima lokasi sekitar pukul 14.40 WIB. Salah satu titik yang menjadi sasaran adalah ruko yang diduga digunakan sebagai laboratorium produksi sabu tersebut.

Meski barang bukti dalam jumlah besar telah diamankan, pengungkapan kasus ini masih menyisakan sejumlah hal yang perlu didalami, terutama mengenai peran setiap orang yang terpantau dalam penyelidikan, asal bahan baku, jalur distribusi, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan tersebut.

Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, yang mendampingi Suyudi dalam pemaparan tersebut, menegaskan bahwa pemberantasan narkotika harus menyasar seluruh mata rantai jaringan, bukan hanya orang-orang yang berada di lapangan.

“Pemberantasan narkoba harus sampai ke akar-akarnya. Semua sisi harus ditutup. Jangan biarkan mereka memiliki tempat di Indonesia, khususnya Aceh,” tegas Dedy.

Pengungkapan dugaan laboratorium tersebut menjadi titik penting dalam upaya membongkar jaringan narkotika yang diduga beroperasi lintas wilayah dan negara. Namun, peran masing-masing pihak serta dugaan hubungan dengan jaringan di luar negeri masih perlu dibuktikan melalui proses penyidikan lebih lanjut.

  • Bagikan
Exit mobile version