Durasi, Lhokseumawe – Dugaan ” ajak berkelahi wartawan ” yang sempat heboh di Kota Lhokseumawe, ditengarai ada Kesalahpahaman. Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Kota Lhokseumawe, T. Syahrial, S.T mengungkapkan, dirinya tidak pernah mengucapkan perkataan dalam bentuk ajakan berkelahi dengan pekerja pers untuk berkelahi.
Ia meluruskan, polemik terkait pernyataannya saat dikonfirmasi mengenai proyek pembangunan drainase di Jalan Merdeka Timur. Ucapannya itu bukan ditujukan untuk menantang wartawan berkelahi, melainkan bentuk ketegasan dalam mempertanggungjawabkan pekerjaan proyek sesuai kewenangan, ” kata T. Syahrial, Senin Malam (19/10).
Dia menegaskan, dirinya siap menghadapi kontraktor apabila ditemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi. Asalkan, proyek tersebut memang berada di bawah tanggung jawab bidang yang dipimpinnya.
” Bukan dengan wartawan Saya mengajak berkelahi. Saya hanya mengatakan, kalau memang proyek itu di bawah tanggung jawab Saya dan tidak sesuai spesifikasi, Saya siap berhadapan dengan kontraktornya, Bukan dengan teman kita dari media, salah paham itu, ” ungkap Syahrial.
” Dalam proyek tersebut bukan Saya dari SDA tapi proyek pengerjaan dari bidang Cipta Karya. Saya selalu terbuka kepada semua wartawan yang hendak konfirmasi dalam ranah kerja Saya tidak pernah Saya tidak menanggapi konfirmasi rekan rekan media” tuturnya lagi.
Ia menyebutkan, polemik tersebut muncul akibat kesalahpahaman dalam menangkap maksud pernyataannya. Menurutnya, penting bagi setiap pihak untuk memahami konteks pembicaraan secara utuh, agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.
Oleh karena itu, Ia meminta, pihak media yang hendak melakukan konfirmasi teknis mengenai pekerjaan tersebut disampaikan kepada bidang yang menangani proye. Sehingga, penjelasan yang diperoleh sesuai dengan kewenangan dan fakta di lapangan.
Pihaknya dari PUPR tidak pernah bermaksud menghalangi kerja jurnalistik. Sebaliknya, Syahrial menyatakan, dirinya terbuka terhadap kritik, saran, dan konfirmasi media sebagai bagian dari pengawasan terhadap pembangunan daerah.
Atas polemik yang berkembang, Syahrial turut menyampaikan permohonan maaf kepada insan pers dan masyarakat Kota Lhokseumawe apabila pernyataannya menimbulkan penafsiran yang berbeda dari maksud sebenarnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi yang baik serta tidak mengganggu hubungan antara pemerintah daerah, media, dan masyarakat.
Sebelumnya, proyek pembangunan drainase di Jalan Merdeka Timur menjadi sorotan Yayasan Cahaya Keadilan Rakyat Aceh (CaKRA). Pekerjaan tersebut diduga tidak sesuai spesifikasi teknis. Bahkan, diduga pelaksanaannya dinilai hanya memoles konstruksi lama agar terlihat seperti bangunan baru.












