Hingga 2 Januari 2026, total korban jiwa akibat bencana banjir di Aceh Utara telah mencapai 226 orang.
LANGKAHAN, ACEH UTARA – Di saat berbagai belahan dunia menyambut tahun baru 2026 meriah, warga Kecamatan Langkahan justru terbangun dalam dekapan sisa-sisa bencana yang tak kunjung usai.
Tepat pada 1 Januari 2026, kondisi wilayah ini menjadi saksi bisu lambatnya pemulihan pascabencana yang kini telah memasuki hari ke-36.
Memasuki hari ke-36 pascabencana, wilayah ini tidak hanya terjebak dalam material lumpur, tetapi juga duka mendalam atas hilangnya ratusan nyawa.

Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil akrab disapa Ayahwa, dalam keterangan pers menyampaikan, data terbaru hingga 2 Januari 2026, total korban jiwa akibat bencana banjir di Aceh Utara telah mencapai 226 orang.
Tumpukan kayu gelondongan dan material lumpur pekat masih menjadi pemandangan utama yang membelenggu desa-desa di sana.

“Lumpur dan kayu masih mengepung pemukiman. Ini potret pilu bagi warga Langkahan di awal tahun,” ujar Tokoh Pemuda Aceh Utara, Alikuba, saat menyalurkan bantuan logistik di Gampong Geudumbak, Jumat (1/1/2026).
Lumpur Mengeras, Aktivitas Terhenti
Material lumpur yang tak kunjung dievakuasi kini mulai mengering dan mengeras. Dampaknya, denyut nadi ekonomi dan sosial di Langkahan mengalami mati suri:
- Fasilitas Umum: Sekolah dan sarana ibadah belum bisa digunakan secara optimal karena masih tertimbun material sisa yang membutuhkan alat berat untuk pembersihan skala besar.
- Ancaman Kesehatan: Aroma menyengat dari material organik yang membusuk di bawah tumpukan kayu mulai dikeluhkan warga, memicu kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit.

Angka 36 hari bukanlah waktu yang singkat untuk bertahan dalam kondisi darurat. Warga berharap di awal tahun 2026 ini, Pemerintah Daerah dan instansi terkait memberikan perhatian serius yang nyata.
Mereka berharap tidak “dilupakan” mengingat ribuan jiwa masih terjebak di antara puing kehancuran alam.












