BIREUEN- Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Bireuen tidak hanya diwarnai berbagai kegiatan seni, budaya, olahraga, dan hiburan rakyat, tetapi juga diisi dengan kegiatan keagamaan sebagai upaya memperkuat syiar Islam, menumbuhkan ketakwaan, serta melestarikan tradisi religius yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Pemerintah Kabupaten Bireuen melalui panitia pelaksana HUT ke-27 menjadwalkan kegiatan tausiah keagamaan yang dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Senin malam, 12 Oktober 2026, di halaman Masjid Agung Sultan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperdalam pemahaman agama, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta meneguhkan komitmen bersama dalam membangun Bireuen yang religius, berakhlak mulia, maju, dan bermartabat.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia menghadirkan Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Kaff, Lc., M.E., seorang pendakwah yang dikenal aktif menyampaikan dakwah Islam di berbagai daerah dan negara.
Kehadiran ulama dan pendakwah dalam peringatan hari jadi Kabupaten Bireuen diharapkan dapat memberikan pencerahan spiritual sekaligus mengajak masyarakat menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, dan penyelenggaraan pemerintahan.
Tausiah dan Maulid, Memperkuat Kecintaan kepada Rasulullah SAW
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tradisi keagamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali keteladanan beliau dalam membangun kehidupan yang berlandaskan keimanan, kejujuran, persaudaraan, keadilan, dan kasih sayang.
Melalui tausiah keagamaan dan peringatan Maulid Nabi, masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern, mulai dari persoalan sosial, melemahnya kepedulian terhadap sesama, hingga pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Momentum Maulid juga menjadi kesempatan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat hubungan antarsesama warga, serta menumbuhkan semangat saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi Kabupaten Bireuen, yang memiliki akar sejarah dan tradisi keislaman yang kuat, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan syiar Islam dari generasi ke generasi.
Menghadirkan Pendakwah untuk Memperluas Wawasan Keislaman
Al-Habib Ali Zainal Abidin Al-Kaff, Lc., M.E., merupakan pendakwah yang menempuh pendidikan agama sejak usia muda. Ia pernah belajar di madrasah di Palembang, kemudian melanjutkan pendidikan di Pesantren Darul Habib, Sukabumi, sebelum menimbang ilmu di Kuliah Syariah Al-Aqqof, Hadramaut, Yaman.
Dalam perjalanan dakwahnya, ia juga pernah mengembangkan kegiatan dakwah di Malaysia melalui organisasi Cinta Rasul serta memperluas aktivitas dakwah ke sejumlah wilayah di Asia, Australia, Selandia Baru, dan Eropa.
Selain berdakwah secara langsung, ia memanfaatkan media digital untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada masyarakat yang lebih luas. Ia juga diketahui membina pondok pesantren Ribath di Garut, Jawa Barat.
Kehadirannya dalam rangkaian HUT ke-27 Kabupaten Bireuen diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan keagamaan kepada masyarakat, khususnya mengenai pentingnya memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, menjaga persaudaraan, serta membangun kehidupan yang seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat.
Melestarikan Budaya Aceh yang Berlandaskan Nilai Ketakwaan
Aceh dikenal memiliki tradisi dan kebudayaan yang erat kaitannya dengan ajaran Islam. Berbagai kegiatan keagamaan, seperti pengajian, kenduri Maulid, zikir, dan tausiah, telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat di berbagai daerah.
Tradisi tersebut bukan sekadar warisan turun-temurun, melainkan juga sarana pendidikan moral dan spiritual yang berperan dalam membentuk karakter masyarakat.
Karena itu, pelaksanaan tausiah dan Maulid Nabi dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Bireuen diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan melestarikan budaya keislaman yang sejalan dengan tuntunan agama.
Pelestarian budaya religius perlu dilakukan dengan menjaga nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya, termasuk semangat gotong royong, penghormatan kepada ulama, kepedulian terhadap anak yatim dan kaum dhuafa, serta kebiasaan memakmurkan masjid dan meunasah.
Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, generasi muda juga perlu didorong agar tetap memiliki pegangan moral dan spiritual yang kuat. Kemajuan daerah hendaknya berjalan seiring dengan peningkatan kualitas akhlak, pendidikan agama, dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, kebudayaan dan agama dapat terus menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat sekaligus memperkokoh identitas Kabupaten Bireuen.
Bireuen Religius, Pembangunan Harus Beriringan dengan Akhlak
Peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan pembangunan daerah sekaligus memperkuat komitmen dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, berpendidikan, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
Pembangunan daerah tidak cukup hanya diukur melalui kemajuan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, dan penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat. Pembangunan juga perlu tercermin dalam kualitas akhlak, kepedulian sosial, kejujuran, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.
Nilai-nilai keislaman mengajarkan bahwa amanah harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, keadilan harus ditegakkan tanpa membeda-bedakan, dan kepentingan masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam setiap kebijakan.
Dalam konteks tersebut, tausiah dan Maulid Nabi dapat menjadi pengingat bahwa semangat membangun daerah perlu disertai penguatan moral, integritas, dan keteladanan.
Masyarakat juga diharapkan menjadikan momentum hari jadi kabupaten sebagai kesempatan untuk mempererat persatuan, menjaga kedamaian, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta berkontribusi dalam pembangunan sesuai kemampuan masing-masing.
Dari Peringatan Menuju Pengamalan
Melalui rangkaian HUT ke-27 Kabupaten Bireuen, pelestarian seni dan budaya, kegiatan olahraga, serta syiar keagamaan diharapkan dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang harmonis.
Kemeriahan perayaan hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi meninggalkan pesan dan manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tausiah menjadi sarana memperoleh nasihat dan pencerahan. Maulid Nabi menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sementara itu, tradisi keagamaan menjadi jembatan untuk mewariskan nilai-nilai ketakwaan kepada generasi berikutnya.
Dengan mengusung tema “Dengan Maulid, Kita Perkuat Ukhuwah Menuju Bireuen yang Religius, Maju dan Bermartabat,” kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kesadaran beragama, dan menjaga tradisi Islam yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh.
Pada akhirnya, makna peringatan HUT ke-27 Kabupaten Bireuen bukan hanya terletak pada kemeriahan acara, melainkan juga pada sejauh mana momentum tersebut mampu memperkuat persatuan, meningkatkan ketakwaan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mendorong terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia.
Sebab, daerah yang maju bukan hanya daerah yang berkembang secara fisik dan ekonomi, tetapi juga daerah yang masyarakatnya menjunjung tinggi keimanan, menjaga persaudaraan, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, serta menjadikan akhlak sebagai landasan kehidupan.(Yudi Wbc)












