KRUENG GEUKUEH, ACEH UTARA – Universitas Malikussaleh (Unimal) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan kapasitas masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengurangan Risiko Bencana dalam Mendukung Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Aceh Utara.
Program tersebut melahirkan Model SIGAP-STUNT (Sinergi Gampong Tangguh Bencana untuk Pencegahan Stunting), sebuah inovasi pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan mitigasi bencana, kesehatan ibu dan anak, ketahanan pangan keluarga, serta penguatan kapasitas gampong dalam menghadapi bencana, khususnya banjir.
Peluncuran sekaligus penyerahan Buku Panduan Model SIGAP-STUNT dilaksanakan pada Senin, 28 September 2026, di Kantor Geuchik Gampong Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Buku panduan tersebut diserahkan kepada tiga gampong sasaran, yakni Gampong Tambon Tunong, Paloh Gadeng, dan Keude Krueng Geukueh.

Model SIGAP-STUNT disusun oleh tim dosen Unimal dari berbagai disiplin ilmu sebagai pendekatan terpadu untuk menjawab persoalan stunting di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana.
Tim pengabdian dipimpin Deassy Siska M.Sc, dosen Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unimal yang memiliki bidang keilmuan lingkungan dan kebencanaan.
Tim tersebut beranggotakan Dr. Rahmi Inayati S.K.M M.Kes, dosen bidang keperawatan dan kesehatan masyarakat; Jullimursyida Ph.D, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Prof. Dr. Ir. Mawardati M.Si., dosen Fakultas Pertanian; serta Teuku Zulkarnaen Ph.D, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Pelaksanaan program turut melibatkan mahasiswa lintas fakultas, yakni Tiara Sartika dari Program Studi Fisika FKIP serta lima mahasiswa Fakultas Kedokteran, masing-masing Safira Dewiar Putri, Cut Syiva Nabila, Khaisha Fathia, Alya Destia, dan Zahwa Nur Azizah. Tim juga diperkuat Unit Kegiatan Mahasiswa Search and Rescue (UKM SAR) Unimal sebagai mitra dalam aspek kesiapsiagaan dan simulasi kebencanaan.
Kegiatan tersebut dihadiri geuchik dan perangkat Pemerintah Gampong Tambon Tunong, Paloh Gadeng, dan Keude Krueng Geukueh, Ketua TP PKK, kader PKK, kader Posyandu, bidan desa, UPTD Puskesmas Dewantara, Satgas Bencana Desa, mahasiswa Fakultas Kedokteran, UKM SAR Unimal, serta masyarakat dari ketiga gampong.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem kesiapsiagaan masyarakat yang terintegrasi dengan pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor di tingkat gampong.
Ketua Tim Pengabdian, Deassy Siska, mengatakan Model SIGAP-STUNT dirancang berdasarkan kondisi dan pengalaman masyarakat Kecamatan Dewantara, khususnya ketika banjir besar melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
“Hari ini kami hadir bersama tim dosen dan mahasiswa untuk memperkenalkan Model SIGAP-STUNT (Sinergi Gampong Tangguh Bencana untuk Pencegahan Stunting), sebuah program yang kami rancang khusus berdasarkan kondisi tiga gampong di Kecamatan Dewantara, terutama Tambon Tunong yang terdampak banjir besar tahun 2025,” kata Deassy.
Menurutnya, bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat mengganggu pelayanan kesehatan ibu dan anak, akses terhadap pangan bergizi, sanitasi, serta keberlangsungan kegiatan Posyandu yang menjadi salah satu ujung tombak pencegahan stunting di tingkat gampong.
“Harapan kami, kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi, tetapi menjadi awal kolaborasi agar gampong semakin siap menghadapi bencana sekaligus melindungi kesehatan ibu dan anak. Kami ingin setiap keluarga memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sistem kesiapsiagaan yang dapat diterapkan sebelum, saat, dan setelah banjir terjadi,” ungkapnya.
Deassy menambahkan, SIGAP-STUNT dikembangkan sebagai model pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di gampong lain di Aceh Utara. Model tersebut memadukan aspek kebencanaan, kesehatan, sosial, dan ketahanan pangan dalam satu kerangka implementasi.
Anggota tim pengabdian, Dr. Rahmi Inayati, menjelaskan buku panduan yang diserahkan kepada pemerintah gampong merupakan salah satu luaran utama kegiatan sekaligus menjadi pedoman implementasi SIGAP-STUNT di lapangan.
Menurut Rahmi, buku tersebut tidak hanya memuat materi edukasi, tetapi juga dilengkapi dengan sejumlah panduan praktis, antara lain SOP pelaksanaan program, peta jalur evakuasi banjir, lokasi titik kumpul, panduan Posyandu tangguh bencana, pemantauan ibu hamil dan balita, ketahanan pangan keluarga, serta checklist kesiapsiagaan masyarakat.
“InsyaAllah buku panduan yang kami serahkan kepada tiga gampong ini akan menjadi role model pemberdayaan masyarakat dalam upaya percepatan penurunan stunting di wilayah rawan bencana. Model ini dirancang agar mudah dipahami, mudah diterapkan, dan dapat direplikasi oleh gampong lain di Kabupaten Aceh Utara,” jelas Rahmi.
Ia menegaskan, upaya penurunan stunting tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan. Kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor penting, terutama ketika bencana terjadi dan berpotensi menghambat pelayanan bagi ibu hamil, bayi, dan balita.
Ketua TP PKK Gampong Tambon Tunong, Agustina, menyebut pengalaman banjir besar pada 2025 menjadi pelajaran penting bagi gampong dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Saat banjir besar melanda Tambon Tunong, saya sendiri sedang ditimpa musibah. Namun sebagai Ketua TP PKK, saya harus berdiri paling depan bersama pemerintah gampong untuk mengurus warga yang mengungsi. Saat itu yang paling membuat saya sedih adalah melihat bayi, ibu hamil, dan para lansia harus bertahan dengan makanan seadanya, bahkan sering kali hanya mi instan karena stok pangan mulai menipis,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, menurut Agustina, menunjukkan bahwa kesiapsiagaan gampong tidak cukup hanya berfokus pada proses evakuasi. Kebutuhan gizi kelompok rentan juga harus menjadi perhatian selama masa tanggap darurat.
“Program SIGAP-STUNT sangat berguna bagi desa kami karena memberikan panduan yang jelas, mulai dari jalur evakuasi, pendataan kelompok rentan, hingga bagaimana menyiapkan pangan dan pelayanan kesehatan ketika banjir terjadi. Kami berharap setiap keluarga di Tambon Tunong menjadi lebih siap menghadapi situasi seperti yang pernah kami alami,” katanya.
Selain menyerahkan buku panduan, Unimal bersama pemerintah gampong juga membangun komitmen keberlanjutan program melalui penandatanganan dokumen kerja sama Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Agreement (IA).
Kerja sama tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan implementasi Model SIGAP-STUNT secara berkelanjutan di tingkat gampong.
Dengan pendekatan yang menggabungkan mitigasi bencana dan pencegahan stunting, SIGAP-STUNT diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan lebih luas di Kabupaten Aceh Utara, terutama pada wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana banjir.[]












